104

27 Oktober 1962, Valentin Savitsky mungkin saja akan membuat dosa paling besar dan tak terampuni. Ia nyaris saja membuat semua orang di Bumi mati. Hal ini didasari lewat keputusan pentingnya ketika terjadi peristiwa Cuban Misille Crisis.

Kejadian ini dimulai ketika beberapa pesawat Amerika melanggar wilayah terbang Russia dan di saat bersamaan Cuba menembak salah satu dari mereka. Seperti yang kamu tahu, ini adalah tentang persaingan antara blok. Beralih ke lautan, USS Beale milik Amerika memaksa kapal selam yang yang komandoi oleh Savitsky untuk naik.

Meskipun kontak dengan dunia luar terputus, ia bisa membayangkan di atas sana sedang terjadi kegaduhan luar biasa. Savitsky mengasumsikan jika Perang Dunia III benar-benar akan dimulai setelah ini. Lalu ia pun diperintahkan untuk meluncurkan sebuah torpedo nuklir dengan sasaran USS Beale.

Ledakan torpedo ini akan membunuh semua yang ada di kapal. Namun tidak hanya itu, Amerika pun akan melakukan serangan balasan. Dunia pun akan memasuki masa peperangan paling hebat sepanjang masa. Tidak akan ada satu bagian pun di Bumi yang bisa ditinggali dengan aman. Tiap negara akan habis-habisan mengerahkan militernya. Singkatnya, tidak akan ada lagi manusia yang tersisa.

Untungnya, Savitsky mengurungkan niatnya untuk meluncurkan torpedo berbahaya ini. Cukup melegakan ketika ia menyadari tidak ada perang yang terjadi di atas. Savitsky pun kembali ke Russia.

Andai saja beberapa kejadian di atas diskenario ulang, mungkin saja dunia akan benar-benar berbeda saat ini. Lewat kejadian di atas bisa disimpulkan kalau sesuatu yang kecil ternyata bisa membawa perubahan besar. Hal yang mungkin bisa kita lakukan saat ini hanya bersyukur dan gregetan. Bersyukur lantaran Savitsky tidak jadi meluncurkan torpedo mengerikan itu, tapi geregetan kenapa Norman Morrison tidak melanjutkan ekspansinya sehingga internet bisa dinikmati lebih awal.

Advertisements