Kepergian sang Perempuan Besi Margareth Thatcher menuai beraneka warna reaksi dari seluruh dunia. Puja-puji mengalir, namun kritik dan kebencian lama atas dirinya pun menguar sama banyaknya.

Menjadi seorang wanita pertama dan satu-satunya dalam pemerintahan Inggris, Thatcher memimpin dengan penuh percaya diri dan arogansi. Ia kini dikenal dengan pencapaian-pencapaiannya, tapi ia pertama kali menjadi fenomena Inggris melalui gendernya.

Tak hanya ia melesat di dunia politik maskulin di Inggris yang dikuasai oleh lobi-lobi politik sambil mengisap cerutu, tapi ia menjadi sosok baja. “Ia lebih keras dari keras itu sendiri,” kata Hugo Young,” tulis kolumnis Guardian dan penulis biografi Thatcher sebelum ia meninggal dunia.

Dengan kepribadiannya yang keras tak kenal kompromi, serta kebijakan-kebijakannya yang radikal, banyak pihak membencinya. Namun Young mengatakan, nilai terbaik Thatcher adalah ketidakpeduliannya bahwa orang lain membencinya. Dia ingin menang, namun tidak pernah percaya pada senyum palsu. Ia perlu pengikut, tapi hanya mereka yang mau mendukung kebijakannya yang kerap tak populer.

Sampai saat ini, publik Inggris, Eropa, bahkan dunia terbelah dalam menilai Thatcher. Headline Daily Mirror yang beraliran kiri hari ini menulis judul, “Perempuan yang Membelah Sebuah Bangsa.” Sedangkan Daily Mail yang lebih kanan memajang judul,” Perempuan yang Menyelamatkan Inggris.”

Bersama Partai Konservatif, Thatcher memenangkan tiga kali pemilu. Dan selama 11 tahun memerintah di Downing Street No.10, ia dicintai dan dibenci.

Sekarang marilah kita memutar ulang sejarah dengan mengingat kebijakan-kebijakan kontroversial sang Perempuan Besi:

Pengusung ideologi pasar bebas, privatisasi industri, dan pembatasan peran serta negara

Thatcher percaya bahwa pasar bekerja dengan efisien jika dibiarkan bebas. Ia menerapkan racikan deregulasi keuangan, pasar bebas, pajak rendah sejak pertama kali  menjadi perdana menteri Inggris di tahun 1979.

Ketika itu, ekonomi dan politik Inggris amburadul. Inflasi melonjak 25% dan pengangguran tinggi. Serikat buruh dan Partai Buruh sangat kuat sehingga bisa menyingkirkan pemimpin partai. Sampah bertumpuk di jalanan karena buruh sering mogok dan tak bekerja. Selain itu, industri-industri besar dikuasai oleh perusahaan negara.

Langkah Thatcher adalah memangkas anggaran pemerintah dan menetapkan target inflasi. Ya, Thatcher adalah penggemar ekonom Chicago, Milton Friedman, dan monetaris Austria, Frederich Hayek.

Resep Thatcher sangat keras bagi perut orang Inggris di masa transisi ini. Inggris resesi. Angka pengangguran mencapai 3 juta, produksi manufakatur merosot. Tapi di depan konferensi partainya, Thatcher bersikeras, “Bagi mereka yang menantikan kata favorit media ‘U-turn’ (putar balik), saya hanya punya satu hal untuk diucapkan: Anda berbalik jika Anda mau. Wanita ini takkan berbalik.” Akhirnya, pada tahun 1983, inflasi Inggris kembali menurun dari 22% hingga ke bawah 4%.

Thatcher juga memprivatisasi banyak perusahaan pemerintah. Di awal pemerintahannya, ia melego British Aerospace and Cable & Wireless, British Telecom, Britoil, British Gas, dan Jaguar. Di masa jabatan ketiganya, ia menjual British Airways, British Petroleum (BP), British Steel, Rolls Royce, dan perusahaan listrik serta air.

Mencekal buruh

Thatcher terkenal dengan ucapannya, “Tak ada yang namanya masyarakat. Yang ada hanya pria dan wanita individu, serta keluarga.” Thatcher mengubah aturan tentang pemogokan buruh. Ia mengontrol inflasi dengan mengontrol upah buruh.

Akibatnya, ia menghadapi salah satu perang politik paling panas yakni pemogokan buruh tambang selama setahun pada 1984-1985. Efeknya, banyak tambang
batubara Inggris yang tutup dan menghancurkan ekonomi keluarga-keluarga Inggris yang mencari nafkah di sekitar tambang.

Perang Falkland

Jika saja Inggris kalah dalam perang ini, maka Thatcher bisa kehilangan jabatannya. Selama seabad, Inggris dan Argentina sudah terlibat sengketa atas kepulauan di Laut Atlantik Selatan ini. Tahun 1982, Argentina mengokupasi Falklands karena percaya Inggris takkan berani menyerang mereka. Tapi sebaliknya, Thatcher mengutus pasukan bersenjata.

Pertempuran terjadi. Kapal-kapal kedua pihak saling tembak dan karam. Korban tewas mencapai 255 tentara Inggris dan 649 di pihak Argentina. Kepahitan perang ini yang menjadikan Thatcher sebagai musuh bersama kebanyakan warga Argentina.

Berperan dalam keruntuhan Uni Soviet

Thatcher memusuhi komunisme dan keruntuhan Uni Soviet merupakan pencapaian terbesarnya. Kebetulan di saat yang sama ketika ia menjabat, ia menemukan
sejoli rekan politiknya: Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan.

Thatcher membantu Reagan mengakhiri perang dingin, memicu keruntuhan Uni Soviet dengan kerja sama mereka dengan Mikhail Gorbachev. Sikap kerasnya terhadap Uni Soviet menjadi asal mula julukan Iron Lady yang pertama kali diberikan oleh pers Uni Soviet.

“Ketika Anda memimpin sebuah negara seperti Inggris, sebuah negara yang kuar, sebuah negara yang memimpin dalam masalah-masalah dunia di saat indah maupun buruk, sebuah negara yang harus selalu bisa diandalkan, maka Anda harus memiliki sentuhan besi dalam diri Anda,” tutur Thatcher kala itu.

Memisahkan Inggris dari penyatuan Eropa

Thatcher skeptis atas rencana penyatuan Eropa. Bahkan ia juga penentang reunifikasi Jerman. Satu kalimatnya yang paling diingat oleh Helmut Kohl ketika Tembok Berlin runtuh adalah, “Kita mengalahkan Jerman dua kali, dan kini mereka kembali.”

Namun, Thatcher sangat mendukung pasar tunggal Eropa. Tetap saja ia tak melihat pasar tunggal Eropa sebagai batu pijakan menuju penyatuan political union terlebih mengorbankan kedaulatan Inggris. Karenanya ia selalu mengambil sikap negatif tentang integrasi Uni Eropa.

Sikap menduanya ini menjadi warisan yang bisa jadi menguntungkan namun juga membingungkan posisi Inggris dalam Uni Eropa hingga kini.

Thatcher selalu keras menentang supermasi Eropa. Kisah yang paling sering diceritakan soal ini adalah ketika ia memenangkan potongan iuran tahunan Inggris kepada Eropa. Di pertemuan dengan para pemimpin Eropa, ia memukul meja dan berkata, “Kami hanya minta uang kami kembali!”

Oposisi Thatcher terhadap integrasi Eropa dan euro terus ia pertahankan. Ia menulis sikapnya ini dalam buku berjudul Statecraft yang terbit tahun 2002.

“Jika Anda bertujuan untuk disukai, Anda akan siap berkompromi untuk apapun dan kapanpun, dan Anda takkan mencapai apa-apa,” ucapnya suatu ketika.

sumber: https://www.kamusbesar.com/tangan-besi

Advertisements