Siapa yang tak mengenal Ibnu Sina? Seorang saintis timur tengah juga menjadi kebanggaan kebanyakan kaum muslimin saat ini. bagaimana tidak, penguasaannya di bidang pengetahuan dan keahliannya di bidang iptek tidak lagi menjadi perdebatan. Pengaruhnya yang luar biasa besar diakui hingga ke dunia Barat. Sampai-sampai buku karangannya dijadikan buku teks kedokteran dan pengetahuan lain di Eropa hingga berabad-abad lamanya.

        Ibnu Sina memang luar biasa, namun siapa yang menyangka bahwa ia bukanlah seorang ulama Islam melainkan hanya saintis. Siapa yang menyangka bahwa di balik kelihaiannya dalam menyembuhkan orang ternyata ia memiliki virus yang bisa meruntuhkan aqidah Islam.

Pendapat Ulama Mengenai Ibnu Sina

         Al-Ghazali menkafirkan Ibnu Sina dan Al Farabi dalam bukunya, Al Munqidz min Adh Dhalal. Dalam bukunya yang lain, At Tahafut Al Falasifah, beliau membantah Ibnu Sina dalam dua puluh majelisnya. Ada tiga poin yang ia sebut sebagai kekeliruan dan kesesatan para filsuf yang mengaku Islam,

          Yang pertama, Alam ini dahulu

          Yang kedua, tidak ada tempat kembali bagi jasmani

      Yang ketiga, sesungguhnya Allah tidak mengetahui hal-hal yang sifatnya juziyyah (partikel kecil)

          Adz Dzahabi dalam Mizanul I’tidal berkata,

        “Saya tidak mengetahui kalau dia meriwayatkan sesuatu dari ilmu dan seandainya dia meriwayatkan, belum pasti riwayat itu darinya, karena dia adalah filosof aliran yang sesat”

          Ibnu Hajar menukil dari Adz Dzahabi dalam kitab Al Lisan,

          “Allah tidak ridha padanya”

      Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam kitabnya, Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wa An Naql, tentang aliran ahli bid’ah dalam menyikapi nash-nash para nabi:

          Yang pertama, aliran Tabdil (perubahan): pembuat takhayul, tafriif (penyelewengan), dan ta’wil.

          Yang kedua, aliran tajhil (pembodohan)

    Para pembuat takhayul adalah mereka yang mengatakan bahwa para nabi menceritakan tentang Allah dan hari akhir. Disebutkan, bahwa Ibnu Sina berjalan di atas metode ini kemudian dia menulis karya Al Adhhuwiyah.

          Dia berkata di akhir ucapannya, “sesungguhnya mereka mengatakan, bahwa para nabi sengaja memahamkan orang banyak dengan cara berdusta dan berbuat batil untuk kemaslahatannya dan syaikhul Islam menganggap mereka itu filosof yang kafir”

          Dalam kitabnya yang lain, Al Istiqamah, Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa Ibnu Sina adalah shabiah (penyembah bintang) yang mencampuradukkan agama dengan filsafat.

          Ibnul Qayyim Al Jauziyah menjelaskan tentang kerancuan filosof secara umum dan Ibnu Sina secara khusus, “Ibnu Sina adalah seorang lelaki yang mu’atthil (meniadakan sifat-sifat Allah), musyrik, menginkari kenabian, serta tidak percaya dengan adanya awal permulaan, akhirat, rasul, dan tidak memercayai kitab suci”

Dalam kesempatan lain, Ibnul Qayyim berkata, “Ibnu Sina sebagaimana yang diberitakannya sendiri pernah mengatakan, ‘aku dan ayahku termasuk pengikut ajakan penguasa’, sedangkan penguasa saat itu termasuk pengikut Qaramithah (Syi’ah) yang tidak percaya dengan permulaan, tempat kembali (akhirat), Tuhan pencipta, rasul yang datang dan diutus dari sisi Allah”

Dan di tempat lain, Ibnul Qayyim menyebutkan, “Ibnu Sina adalah pemimpin orang-orang mulhid (kafir/menyimpang/tidak percaya pada Tuhan)”. Beliau berkata juga, “kesimpulannya, orang-orang mulhid ini serta para pengikutnya dari kaum mulhid adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari akhir”

Imam Ibnu Shalah ditanya tentang kelompok dari kaum muslimin yang menisbatkan diri pada ahli ilmu dan tasawuf. Apakah boleh bagi mereka menyibukkan diri dengan karya tulis Ibnu Sina dan menelaah buku-bukunya, apakah boleh bagi mereka berkeyakinan bahwa dia itu ulama atau bukan? Imam Ibnu Shalah menjawab,

“Hal itu tidak boleh bagi mereka dan barangsiapa berbuat demikian, maka dia telah menipu agamanya dan akan terbuka fitnah yang besar. Dia tidak termasuk ulama, bahkan ia adalah salah satu setan dari setan-setan manusia. Dia berada dalam kebingungan dalam banyak hal”

Advertisements