Tidak sedikit para pemerhati perkembangan sain dan ilmu pengetahuan belakangan ini membelah secara diametral aspek keilmuanan seorang Albert Einstein dari unsur relegiusitasnya. Pandangan seperti ini mengingatkan kita pada abad pertengahan di mana terjadi kesenjangan total antara para ilmuwan dengan para agamawan dan tokoh-tokoh gereja yang kemudian bermuara pada renaissance di benua Eropa. Konsekuensi pemisahan agama dan ilmu pengetahuan ini, agama lalu menjadi teralienasi dari berbagai konstelasi dan sistem kehidupan sehari-hari. Domain agama hanyalah mengatur hubungan vertikal hamba dengan Tuhannya. Selebihnya, menyangkut pranata hidup dan persoalan kemasyarakatan, agama tidak mempunyai urusan secara signifikan untuk mengaturnya.
Pada prinsipnya, para pemerhati tidak menafikan aspek religiusitas Einstain sebagaimana kita maklumi bersama. Namun, religiusitas Einstein terkadang oleh sebagian kalangan dimaknai lain di luar frame transendensi keimanan yang sesungguhnya berdimensi teologis. Religious feeling yang melakat pada pribadi Einstein dimaknai sebagai filsafat yang bertugas mengarahkan ke mana ilmu pengetahuan diarahkan dan digunakan. Kesimpulan akhir dari pandangan ini tak lain bahwa Einstein adalah seorang ateis walupun dia menganggap dirinya religious dalam pengertian berbeda.
Einstein sendiri, seperti disebutkan dalam banyak literatur, pernah mengakui wujud sebuah entitas Tuhan yang maha mengatur perjalanan jagad raya ini. Tidak sekadar itu, Einstein juga mengaku ilmu kealaman yang dikuasainya merupakan sisa-sisa dari apa yang terhijab (tertutup) di balik kekuasaan Tuhan. Pengakuan seperti ini tidak dapat dimaknai sekadar pantulan filsafat yang bertugas mengawal arah dan tujuan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, pengakuan seperti ini merupakan bentuk lain dari dimensi keimanan. Dimensi ini dalam tradisi keberagamaan seseorang dapat ditangkap sebagai elemen paling dasar dan esensial, yakni pengakuan terhadap wujud Tuhan.
Dunia barat sendiri melalui tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki tak dapat dipungkiri dapat menemukan dan mengimani wujud Tuhan Penciptanya. Ilmuwan barat semisal John Clifford pernah membuat ungkapan popular dalam salah satu judul bukunya, Tuhan dapat menjelma di era ilmu pengetahuan. Creasy Morrison, Mantan Direktur Akademi Ilmu Pengetahuan New York, juga pernah membuat pernyataan senada, ilmu pengetahuan dapat mendorong terciptanya iman bagi seseorang. Pendek kata, semakin seseorang dapat menyelami fenomena alam maka ia semakin menemukan momentum keagungan sang Penciptanya.
Dalam Islam, QS. Fathir: 28, disebutkan: Hanya orang berilmu pengetahuan dari hamba-hamba Allah yang dapat tunduk (beriman) kepadaNYA. Bahkan sebuah hasil penelitian yang pernah dikembangkan Muhammad Ijazul Haq dari Universitas Damaskus menyebutkan, 750 ayat dari sekitar 6.666 ayat al-Qur’an berdimensikan ilmu pengetahuan. Dalam ayat-ayat tersebut Tuhan menegur kaum agamawan untuk selalu berfikir kreatif, mempelajari fenomena alam serta menjadikan kegiatan ilmiah menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan integral ummat beragama sehari-hari. Kenyataan seperti ini merupakan indikasi kuat komitmen agama terhadap upaya mengkompromikan ilmu pengetahuan dan agama itu sendiri. Penemuan sebuah realitas di balik eksistensi fisik dan metafisik dari jagad raya merupakan bentuk pengamalan agama dan wujud ibadah paling mulia kepada sang pencipta sebagai lambang identitas kepatuhan ummat manusia dalam melaksanakan perintah 750 ayat al-Qur’an di atas.
Dalam mengalkulasi takaran ilmu pengetahuan dan agama, memang sering terjadi tarik ulur seperti pernah tercermin dalam perdebatan antara dua ilmuwan Muslim, Ali Sari’ati dan Ismail al-Faruqi, menyangkut Islamisasi Sain di satu pihak dan Saintifikasi Islam di pihak lain. Kedua tawaran teori ini sesungguhnya sama-sama memiliki kelemahan analisa (drawback) dalam tataran praksisnya. Islamisasi sain, misalnya, mengesankan bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini tidak memiliki akar sejarah agama. Dengan kata lain, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan sekarang tidak memiliki mata rantai dengan konteks sejarah masa silam. Padahal fakta sejarah menunjukkan sebaliknya, kaum agamawan-lah yang dapat mengibarkan obor ilmu pengetahuan dan mengantarkan ilmu pengetahuan menjadi penerang hidup ummat manusia. Pioner ilmu pengetahuan di abad pertengahan, misalnya, diwarnai oleh sejumlah ilmuwan Muslim, seperti al-Khawarizmi, al-Biruni, Umar Khayam, Ibnu Khaitam, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-Razi, al-Tusi dan lain-lain. Masa-masa setelah itu obor ilmu pengetahuan ummat Islam kian melemah. Ilmu-ilmu kealaman mendapatkan porsi perhatian lebih rendah ketimbang cabang-cabang ilmu lain. Muara dari itu semua adalah ummat Islam saat ini menatap tak berdaya perkembangan ilmu pengetahuan dari buaian dan budaya barat. Kesan yang kemuadian muncul adalah terjadinya disintegrasi ilmu pengetahuan dan agama.
Di lain pihak, saintifikasi Islam juga mengandung beberapa kelemahan metodologis. Kesan yang muncul dari teori ini, seolah Islam kering akan pemunculan konsep dasar ilmu pengetahuan sehingga perlu mengadopsi epistemologi ilmu pengetahuan dari luar dirinya. Padahal, seperti disebutkan tadi, tidak kurang dari 750 ayat dalam al-Qur’an menegur kaum agamawan untuk mengembangkan teori ilmu pengetahuan. Persoalan yang melilit ummat Islam sekarang, ayat-ayat kauniyyah (ayat tentang jagad raya) dalam al-Qur’an sering digunakan tidak lebih dari sekadar menjustifikasi pesatnya ilmu pengetahuan yang dikembangkan barat saat ini.
Gagasan yang mesti dikembangkan saat ini adalah suprasaintifisme Islam. Maksudnya, dasar-dasar ilmu pengetahuan dalam ayat kauniyyah dapat diejawantahkan menjadi sebuah epistemologi ilmu yang dapat diakses dan  dikembangkan sesuai tingkat perkembangan zaman. Di pihak lain, bagaimana  perkembangan ilmu pengetahuan yang telah kita capai dapat dirujuk dalam  ayat-ayat kauniyyah di atas sehingga tingkat perkembangan ilmu pengetahuan sejauh apapun dapat kita tempatkan sesuai konteksnya.
Oleh : KH. Afifuddin Muhajir, M.A.
Advertisements