Apakah seseorang dikatakan pemimpin karena kualitasnya?                                                   Apakah seseorang dikatakan pemimpin karena hubungannya dalam sebuah kelompok? Apakah seseorang dikatakan pemimpin karena jasa-jasanya?

Peter Drucker menyatakan dalam buku “The Practice of Management” (Harper & Row, 1954, hal. 158)  bahwa Kepemimpinan sangatlah penting. Tetapi kepemimpinan tidak dapat diciptakan atau dipromosikan. Kepemimpinan tidak dapat diajarkan ataupun dipelajari”.  Drucker percaya bahwa tugas suatu organisasi  adalah menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kualitas kepemimpinan yang potensial menjadi efektif. Dengan kata lain, sifat-sifat kepemimpinan adalah bagian dari susunan dasar seseorang.

saya sempat melirik pada satu mantan pemimpin negara ini, bukan karena dia mantan militer, bukan juga karena dia elite politik. Tapi yang membuat saya kagum dengan beliau adalah pola pikir dan stratergi yang dia terapkan dalam politik negara ini. begitu anyak siasat=siasat beliau yang berhasil. namun, karena terlalu banyaknya masuh dalam selimut yang beliau hadapi sehingga kini beliau terpuruk.

akan tetapi, mungkin karena dasarnya beliau adalah sang ahli strategi sehingga walaupun kakinya diikat tangannya diikat bahkan mulutnya di sekap beliau masih bisa melancarkan strateginya. sungguh naif, kalau ada yang membantah statement saya ini.

yah beliau adalah, bapak Susilo Bambang Yudhoyono, sedikit biografi tentang beliau:

Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono GCB AC adalah Presiden Indonesia ke-6 yang menjabat sejak 20 Oktober 2004 hingga 20 Oktober 2014.Ia adalah Presiden pertama di Indonesia yang dipilih melalui jalur pemilu.

Lahir: 9 September 1949 (67 tahun), Kabupaten Pacitan

Jabatan dalam kabinet yang pernah dipegang: Menteri Negara Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan,

Kementerian yang pernah dikelola: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia,

Menjabat dalam kabinet: Kabinet Gotong Royong, Kabinet Persatuan Nasional
Era kabinet: Reformasi. 
begitu banyak jabatan yang sudah di pegang oleh beliau tak heran mengapa beliau bisa menduduki Istana Negara selama 2 periode.
kecerdasannya di dunia militerlah yang mungkin menjadi pondasi sehingga dirinya bisa bertahan dalam gegapgempita perpolitikan nasional  yang berproses secara dinamis dan bukan politik instan karbitan yang hanya di jadikan boneka oleh politikus yang mengusungnya (yah semoga yang saya singgung politik instan karbitan itu merasa yah ^_^).
dari sudut pandang yang saya lihat, dalam pilkada DKI ini strategi beliau benar benar berjalan dalam kendalinya , yah kalian lihat dalam pilkada ini mungkin AHY-AHOK-ANIES tapi yang saya lihat adalah SBY-MEGAWATI-PRABOWO hehehe. begitu apiknya strategi yang dia kemas untuk membungka pasangan petahana yang secara garis besar bisa jadi gubernur DKI karena jabatan HIBAH dari JOKOWI yang melepas tanggung jawabnya di DKI.
yang saya perhatikan Beliau disini benar benar menargetkan anaknya sebagai  pemimpin DKI selanjutnya, akan tetapi melihat kondisi lapangan, masyarakat dominan belum bisa atau belum berani berpihak kepada anaknya karena dinilai anak baru di dunia politik padahal kalau kita lihat prestasi anaknya jauh melebih prestasi tim petahana. melihat kondisi itu beliau mengatur siasat. kalau kita perhatikan dari beberapa waktu suara masyarakat yang mendukung anaknya mulai meningkat secara stabil dan mengejar suara petahana namun di akhir akhir pilkada seolah-olah suara dari anaknya berpindah ke pasangan lainnya.
tentu tidak ada asap kalau tidak ada api, tentu di balik itu semua ada permainan ang berjalan dinamis, mulai terjalinnya komunikasi pak SBY dengan pak Prabowo, mulai seringnya pertemuan pak Anis denan Mas Agus. sehingga bisa kita lihat dimana adanya koalisi tersembunyi di kedua paslon ini. sehingga statement yang bisa manggambarkan pemilu kemaren adalah turunnya 2 paslon lain selain petahana disengaja untuk mengukur kekuatan paslon petahana, prediksi putaran kedua sudah menjadi isu dan seakan akan tidak di percaya oleh paslon 2. nah inilah sala satu strategi taktis yang dilakukan SBY yang notabenenya tidak punya apa apa lagi di perpolitikan negara ini.
Hingga saat ini, SBY memang terlihat masih diam. Banyak yang mengira lawan berat PDI Perjuangan dan Jokowi adalah Gerindra dan Prabowo. Tapi sebenarnya, SBY sedang mengatur siasat. Dia sedang mundur ke belakang untuk menyusun strategi yang matang.

Namun perlu diperhatikan, papan catur pertarungan saat ini bukan sekedar capres lawan capres. Peristiwa yang terjadi saat ini adalah juga pertempuran patih dengan patih, atau cawapres dan cawapres. Salah menentukan cawapres, habislah sang raja.

Di sinilah mengapa posisi cawapres menjadi sangat penting, selain juga di tengah kondisi sosok Jokowi yang dinilai masih punya kelemahan.

Dan di tengah kekosongan kursi cawapres Jokowi itulah, SBY sedang menghitung serta mengatur langkah-langkah yang akan diambil.

Dari sisi ini, ada yang percaya, celaka lah Megawati dan Jokowi bila mengambil JK sebagai cawapres.

Dengan JK menjadi cawapres Jokowi, maka SBY jadi punya dua modal senjata untuk melawan.

 

mungkin sempat ada yang bertanya-tanya kok sosok JK yang dengan lantang mengatakan jangan karena dia terkenal di jakarta (jakowi) tiba tiba mencalonkan presiden bisa hancur negara ini. langsung mau menjadi wakil presidennya. Came on, buka mata kalian disinilah SBY mencoba membuka jalur dari JK ke pemerintahan Jokowi. bisa dilihat kata kata pak JK jadi kanyataan. negara ini seperti di porak porandakan akibat pemimpin yang lambat mengambil sikap, lambat dalam menetapkan pernyataan, ambigu dalam memberikan kebijakan.

dan masih banyak lagi strategi strategi lain dari beliau. inilah salah satu sang panglima strategi terbaik yang dimiliki negara Ini.